Contoh cerpen pengalaman orang lain
KETIKA
MOTOR KERAMAT MEMINTA KORBAN
Karya Eka Fitriani
Aku punya teman, namanya Yoga Adi Wibowo.
Dia adalah temanku waktu TK dulu. Tapi entah mengapa kami dipertemukan lagi di
SMP. Kami sama-sama masuk ke SMP N 1 Wangon. Dua tahun berlalu, aku hanya
mengenal dia tanpa tau akan karakternya. Baru setelah kelas IX, aku sekelas
dengan Yoga dan aku juga tau akan karakternya.
Yoga adalah anak yang lucu dan sangat
humoris. Dia selalu saja bergurau saat di kelas. Teman setianya adalah Yayan,
mereka akan selalu kompak dalam kegiatan apapun. Aku selalu tertawa ketika
mereka berulah, dengan gaya ngomong Yoga yang tidak biasa tapi lucu.
Namanya sih Yoga Adi Wibowo, nama yang keren dan bermakna. Tapi Yoga lebih akrab dipanggil Gembul, mungkin karena badannya yang besar. Dia punya hobi bermain sepak bola, setiap waktu istirahat dia pasti bermain sepak bola entah di lapangan maupun di kelas. Tak dapat dihindarkan tiap bel masuk “Beeehhhhhhh” bau parfum yang luar biasa menyengat.
Sebenarnya Yoga bukan kategori anak yang
nakal, hanya saja dia kurang diperhatikan oleh orang tuanya sehingga mencari
pelampiasan di sekolah dengan membuat ulah. Tapi aku tau, dia sadar bahwa di
waktunya yang terakhir di SMP dia pasti ingin lulus bersama temannya yang lain.
Semasa itupun Yoga banyak bercerita
kepadaku dan meminta untuk belajar bersama. Tentu saja aku menerimanya, kami
juga belajar bersama dengan beberapa teman sekelas yang lain sepulang sekolah.
Dia pernah bercerita kepadaku tentang kejadian yang membuatnya tak pernah lupa.
Dulu waktu masih kelas VII Yoga sering
dikecengi sama teman-temannya. Katanya dia itu cupu banget karena ngga bisa
naik motor. Dia merasa sangat sebal dan merasa berbeda dengan temannya yang
lain. Ketika itu Yoga sedang berkumpul dengan teman-temannya di kantin sehabis
bermain sepak bola.
“Mbul, lo bisa naik motor ga?” Tanya
Bawen.
“Ngga, kenapa sih?” Tanya Yoga pada
Bawen.
“Hah, ga bisa naik motor Mbul? Ya ampun,
sekarang tuh ye anak kecil aja udah bisa naik motor masa lo belum sih.” Jawab
Delli.
“Ya kenapa. Tuh anak kecil aja yang
songong, masih kecil aja udah belajar naik motor.” Jawab Yoga dengan santainya.
“Lo yang ketinggalan jaman tau. Gengsi
dong, jaman sekarang cowo itu wajib bisa naik motor biar bisa ngecengin cewe
dong.” Jawab Bawen.
“Masa sih. Ga lah, gue ga percaya.”
Jawab Yoga.
“Ya udah terserah lo aja ye.” Jawab
Bawen.
Yoga tak mengiraukan omongan Bawen dan
Dellian di kantin tadi. Tapi nyatanya dia terkadang ingat akan kata-kata itu
dan sesekali bergumam dalam hati. “Apa iya sih, cowo itu harus bisa naik
motor?”
Tapi segera ia menghilangkan pikiran itu
dari otaknya. Dia pulang dengan naik bus bersama Adit yang biasa dipanggil
Lutung, mungkin karena kulitnya yang hitam sehingga ia diberi kehormatan oleh
taman-temannya diberi nama Lutung.
“Tung, pulang yuk. Ke terminal kan?”
Tanya Yoga.
“Iya Mbul, ntar dulu yah. Aku mau belie
es.” Jawab Adit.
Merekapun pulang bersama jalan kaki dari
SMP ke Terminal. Di perjalanan, tak lupa mereka memperhatikan orang-orang yang
berlalu lalang di jalan dengan motor mereka masing-masing.
“Mbul, liat tuh. Kenapa yah, dari tadi
kayaknya kita cuma liat pasangan cowo yang jemput cewenya.” Kata Adit.
“Iya yah, bikin iri aja. Eh Tung, lo
udah bisa naik motor belum?” Tanya Yoga.
“Udah dong. Kenapa sih?” Tanya Adit
lagi.
“Ga kok, cuma nanya emang ga boleh.”
Jawab Yoga.
“Oh, kirain.” Jawab Adit. “Emangnya
kirain kenapa sih?” Tanya Yoga penasaran.
“Ya kirain lo belum bisa naik motor.”
Jawab Adit. “Emangnya kalau belum bisa naik motor itu gimana?” Tanya Yoga makin
penasaran.
“Ya gengsi lah, hari gini ada cowo yang
belum bisa naik motor. Itu sih cowo cupu alias ketinggalan jaman.” Jawab Adit.
“Oh gitu yah.” Jawab Yoga dengan singkat. Dia tak mau ada lagi yang tau kalau
dia belum bisa naik motor. Dia ingat lagi dengan kata-kata Bawen dan Dellian.
Tapi untuk sekarang dia masih yakin kalau cowo yang ga bisa naik motor itu
wajar.
Hari-hari berlalu seperti biasanya.
Bawen dan Delli sudah tak menyinggung lagi masalah Yoga yang belum bisa naik
motor. Seperti biasa, setelah bermain sepak bola Yoga dan kawan-kawannya pergi
ke kantin. Tapi kali ini berbeda, Bawen tak ikut bermain sepak bola, dia hanya
melihat dari kantin.
“Lo kenapa Wen, kok tadi ga ikut bareng
kita main bola sih?” Tanya Yoga.
“Kalian belum tau yah, kemaren tuh aku
baru jadian sama Chika. Anak Mts Wangon yang terkenal cantik itu, tau kan?”
Jawab Bawen sumringah.
“Serius lo, masa sih. Kok bisa dia
nerima lo.” Tanya Delli menyerobot karena sangat penasaran.
“Bisa lah, kemarin tuh ya. Aku nganterin
dia pake motornya si Dayat yang Vixion itu loh. Terus aku ajak Chika ke
Banteran dulu sekedar cari angin. Tempatnya kan enak tuh, silir-silir gimana
gitu. Terus aku tembak aja dia, eh malah diterima. Gue seneng banget, makannya
nanti gue mau jalan lagi sama dia. Gengsi dong kalau sampe bau keringat.” Jawab
Bawen menjelaskan panjang lebar,
“Widiihhhh, hebat juga lo. Mesti berguru
nih, terus ntar lo mau jemput pake apaan? Pake motor Dayat lagi apa gimana?”
Tanya Yoga.
“Ga lah, ntar gue mau pake motor kakak
gue aja. Dia kan punya motor satria.” Jawab Bawen.
“Kalo gitu, boleh dong hari ini
ditraktir?” Tanya Yoga mengharap kucuran gratisan dari Bawen.
“Enak aja lo, ni duit tuh buat jajan gue
sama cewe gue nanti. Kapan-kapan aja deh.” Jawab Bawen.
“Pelit…………..” Jawab Yoga kesal. Pupuslah
sudah harapannya untuk mendapat gratisan.
“Makannya Mbul, lo pengen dapet cewe
kan. Gue kasih tau yah, kalau sore-sore tuh main ke Banteran naik motor.
Beeehhhhh, banyak banget cewenya tau. Tapi motor yang oke.” Nasihat Dellian
pada Yoga.
“Diem deh lo pada. Terserah gue kan.”
Jawab Yoga.
Yoga kesal mendengar sindiran dari
teman-temannya. Diapun segera berlalu pergi. Saat bel pulang berbunyi, kali ini
dia pulang sendiri karena Adit masih ada tugas sehingga tidak pulang
bersamanya.
Ketika ia sampai di terminal, ia hanya
sendiri. Yang dilihat hanya gerombolah cewe-cewe dari Mts. Karena jarak mereka
tidak terlalu jauh, Yoga mendengar percakapan cewe-cewe itu.
“Tau ga, gue tuh suka banget sama cowo
yang cool, berwibawa. Apalagi kalau dia pake motor satria. Pasti keliatan keren
banget deh,” Kata seorang cewe.
“Siapa bilang, lebih keren juga cowo
yang lembut, maskulin dan pake motornya yang matik aja. Bakalan keliatan lebih
oke.” Jawab yang lainnya.
“Yeee,,, ngomogin cowo mulu. Ada bus
tuh, ikut nggak? Ntar malah
ketinggalan.” Kata seorang lagi.
Gerombolan cewe itupun segera hilang
dibatas pandangan Yoga. Yoga hanya bergumam di dalam hati dan sedikit sebal
dengan anggapan cewe-cewe tadi.
“Kenapa sih, mesti cowo yang pake motor
yang lebih diagungkan. Apa bedanya coba.” Gumam Yoga di dalam hatinya.
Sialnya, kelemahan Yoga yang tak bisa
naik motor semakin dia rasakan. Dia sadar dan dia menganggap kalau cowo yang ga
bisa naik motor selalu mendapat pandangan hina penuh kenajisan dari para cewe.
Berbanding terbalik dengan cowo yang punya dan bisa naik motor, akan lebih
terlihat berwibawa di hadapan kaum hawa.
Dari kenyataan pahit yang dia rasakan
sendiri. Akhirnya dia meminta Bawen untuk mengajarinya naik motor. Yoga memang
sering ke rumah Bawen buat ngerjain tugas atau sekedar bicara “ngalor-ngidul”
tak ada tujuannya. Yoga dan Bawen adalah teman dekat sejak mereka masuk ke SMP N
1 Wangon.
“Mbul gimana, lo masih kekeh kalau cowo
yang ga bisa naik motor itu wajar aja?” Tanya Bawen.
“Ga lah, gue udah tau. Makannya gue ke
sini minta diajarin motor sama lo. Mau kan ngajarin gue?” Tanya Yoga.
“Kapan Mbul, gue sih oke oke aja.” Jawab
Bawen sangat antusias.
“Sekarang yuk Wen. Mumpung gue udah di
sini.” Jawab Yoga.
“Sekarang? Mau pake motor siapa?” Tanya
Bawen penasaran.
“Motor lo dong. Boleh kan?” Tanya Yoga.
“Waduuuhh. Mbul, motor gue lagi dibawa
bokap gimana dong.” Jawab Bawen.
“Ya elah. Ya ga ada motor lagi dong,
terus kapan nih?” Tanya Yoga.
“Lo punya motor di rumah ga?” Tanya
Bawen.
“Punya sih, tapi punya bokap gue.” Jawab
Yoga.
“Nahh, gitu aja. Lo pinjem aja tuh
motor, motornya kopling atau matic?” Tanya Bawen.
“Motor kopling. Tapi ga tau boleh atau
ga, soalnya bokap gue juga kan tau kalau gue belum bisa naik motor.” Jawab Yoga
sedih.
“Itu sih masalah gampang. Besok pulang
sekolah gue ke rumah lo deh. Terus kita berangkat pake motor bokap lo, gue yang
nyetir.” Jawab Bawen.
“Ya ya ya. Jangan lupa yah,
ngomong-ngomong gue laper nih, mana makanannya dari tadi kok ga dikasih sih, gue kan tamu.?” Tanya
Yoga.
“Ya elah Mbul, giliran makan aja inget.
Nyokap gue ga masak, beli makan aja yuk. Ke Banteran sambil ngecengin
cewe-cewe.” Jawab Bawen semangat.
“Bener juga tuh. Oke deh, cabbuuttt.”
Jawab Yoga tak kalah semangat.
Yoga dan Bawenpun segera meluncur ke
Banteran dengan memakai motor satria milik kakak Bawen. Mereka mampir ke Pondok
Batagor. Ketika sampai, ternyata benar, ada banyak cewe yang nongkrong di sana
juga. Tapi sayang seribu sayang mereka semua sudah membawa kecengan
masing-masing. Pupuslah sudah harapan Yoga dan Bawen untuk tebar pesona
dihadapan cewe-cewe tadi.
“Yaaahhh, apes deh kita Wen. Udah dandan
super kece gini malah dikacangin.” Ungkap Yoga pada Bawen.
“Iya nih, cabut aja yuk. Malu kan cuma
kita yang ga bawa cewe.” Jawab Bawen.
Merekapun pergi dari tempat itu. Mereka
pergi ke Pecikalan, berharap bisa mendapat hal lain yang lebih menarik.
Sepanjang jalan mereka hanya diam, karena bingung merekapun memutuskan untuk ke
Byond comp sekedar browsing atau update status. Setelah kurang lebih satu jam
mereka keluar dari warnet dan seperti biasa, mereka pergi mencari makan. Mereka
membeli es di perempatan terminal Wangon. Mereka melihat banyak orang yang
berlalu lalang, terutama kaum muda mudi, setelah beberapa lama mereka merasa
bosan.
“Mbul, ngapain sih kita di sini. Bosen
tau, liatnya itu itu aja. Cabut aja yuk.” Ajak Bawen.
“Iya nih, gue juga bosen. Anterin gue
pulang aja yuk, udah sore nih.” Jawab Yoga.
Bawen mengantarkan Yoga hingga ke depan
istana milik ayahnya. Di depan rumah Yoga sudah terlihat ramai, mungkin warga
yang sedang berkumpul atau apalah Yoga tak perduli. Dia langsung saja
menyelonong masuk ke kamar lewat pintu belakang rumahya.
Esok segera datang menyongsong muka Yoga
yang masih mengantuk. Ia malas-malasan untuk bangun karena tadi malam ia
begadang nonton bola big match antara Chelsea dan Manchester united. Sungguh
pertandingan yang sangat sengit dan seru.
“Yoooggaaaaaa, bangun. Udah siang nih,
udah jam setengah tujuh. Apa kamu ga sekolah.” Omel Ibu Yoga.
“Hmmmmmm.” Jawab Yoga tak bersemangat,
ia masih ingin tidur.
“Ayo cepat bangun. Mau jadi apa kamu ini
kalau jam segini aja belum bangun. Bapak kamu udah nunggu tuh, mau diantar pake
motor. Cepetan bangun.” Jawab Ibunya lagi.
“Hah, motor. Mana-mana motor apa sih,
beli kapan. Aku kan ga ulang tahun Mah.” Jawab Yoga setengah sadar karena
nyawanya belum kumpul semuanya.
“Siapa yang beliin motor, cuma mau
diantar pake motor. Bangun makannya cepetan.” Jawab Ibu Yoga.
“Ooohh, kirain. Ya udah deh.” Jawab Yoga
seraya kembai merapikan selimutnya.
“Bangun, jangan tidur lagi. Apa mau nih
Ibu siram.” Jawab Ibu Yoga.
“Iya Mah, udah bangun nih.” Jawab Yoga
seraya berdiri dengan sedikit sempoyongan menuju kamar mandi.
Setelah mandi Yoga merasa sangat segar
dan hidup kembali. Segera saja ia ke dapur untuk mencari hal yang bisa
digunakan untuk mengisi perutnya yang kosong. Hanya ada selembar roti dengan
selai nanas di atasnya dan segelas susu. Tanpa berfikir panjang Yoga langsung
menyantap kedua sarapan itu. Ia berangkat sekolah dengan diantar ayahnya
memakai motor.
“Pak, tumben mau nganterin pake motor?”
Tanya Yoga.
“Ya, sekalian aja. Soalnya Bapak ada
dinas di Purwokerto.” Jawab Ayahnya.
“Pulangnya kapan Pak?” Tanya Yoga.
“Paling kalau ga sore ya malem.” Jawab
Ayahnya.
Ia ingat, hari ini ia akan diajari naik
motor oleh Bawen. Tapi ternyata motor ayahnya itu akan dibawa pergi, otomatis
dia tak bisa belajar motor hari ini. Setelah sampai di pintu gerbang sekolah ia
bertemu dengan Bawen.
“Duh Wen, sial sial.” Ungkap Yoga.
“Sial kenapa Mbul? Belum ngerjain tugas
apa?” Tanya Bawen.
“Tugas sih gampang. Ini masalah belajar
motornya, hari ini motor bokap gue dibawa sampe sore bahkan mungkin sampe malem.
Gimana yah?” Tanya Yoga meminta saran.
“Gimana yah? Tapi kayaknya motor gue
nganggur tuh.” Jawab Bawen.
“Waahhh, bagus bagus. Pake motor lo aja
yah.” Pinta Yoga.
“Tenang aja Mbul, yang penting bensinnya
oke.” Jawab Bawen.
“Tenang aja sama gue ini. Masalah bensin
dijamin beres.” Jawab Yoga sumringah.
“Siiippp deh kalo gitu.” Jawab Bawen.
Mereka berdua masuk ke kelas karena bel sudah berbunyi.
Yoga sudah tak sabar untuk diajari Bawen
naik motor. Hingga dia tidak berkonsentrasi selama pelajaran berlangsung. Dia
menanti-nanti jam segera berputar dan bel pulang segera berbunyi.
Setelah beberapa lama menanti, bagaikan
menanti antara hidup dan mati, akhirnya bel pulangpun berbunyi. Hati Yoga
serasa bersorak kegirangan, segera saja ia menyeret Bawen untuk pergi ke rumah
Bawen dan segera belajar motor.
“Sabar Mbul, sabar sabar. Aku masih di
sini kok, ga pergi.” Kata Bawen.
“Ayo Wen, cepetan. Kalau tiba-tiba motor
lo dipake lagi gimana. Makannya ayo cepetan.” Jawab Yoga tergesa-gesa.
Segera Yoga dan Bawen pergi ke rumah
Bawen untuk mengambil motor. Tapi ada sedikit hambatan, kemana mereka harus
pergi mencari tempat yang cocok untuk belajar motor.
“Mbul, mau di mana nih, belajarnya?”
Tanya Bawen.
“Terserah aja lah Wen, aku sih ikut-ikut
aja.” Jawab Yoga.
“Pecikalan aja yuk, di jalan yang deket
sawah itu.” Saran Bawen.
Yoga dan Bawen akhirnya memutuskan untuk
berlatih di Pecikalan. Setelah sampai di sana, mereka masih mencari tempat yang
sekiranya agak sepi untuk mengurangi resiko tabrakan.
“Lo bisa naik sepeda kan Mbul?” Tanya
Bawen.
“Bisa, kalau sepeda sih aku bisa Wen.”
Jawab Yoga penuh semangat empat lima.
“Bagus, logikanya kalau bisa naik sepeda
pasti juga bisa naik motor.” Jawab Bawen menyemangati Yoga sambil menepuk
bahunya.
Bawen sudah siap mengajari Yoga cara
naik motor yang baik dan benar. Secara sehat jasmani dan rohani dia menyerahkan
motor kesayangannya untuk Yoga pake dan menempuh resiko ringsek karena nabrak
kendaraan lain yang sewaktu-waktu lewat di tengah jalan. Sebelumnya Bawen
menjelaskan sedikit tentang bagaimana menghidupkan motor, mengatur gas, dan
mengatur gigi motor.
“Siapp Mbul, gue hitung yah. Satu… Dua….
Tiga…. Gas sekarang Mbul.” Perintah Bawen.
Yoga menggas motor itu, tapi karena
masih takut-takut jalannya jadi tak beraturan. Masih geal geol dan kajrut
kajrutan.
“Waduuhh Wen, bahaya nih. Gue kan belum
terampil, kalau ada kendaraan lain gimana. Pindah aja yuk?” Ajak Yoga pada
Bawen.
“Pindah ke mana Mbul?” Tanya Bawen.
“Ke lapangan deket SMP 2 aja yuk.” Jawab
Yoga.
“Ya udah deh.” Jawab Bawen.
Tanpa membuang waktu Yoga dan Bawen
segera meluncur ke lapangan di dekat SMP 2 Wangon. Sesampainya di sana, Bawen
langsung menyerahkan kemudi motornya pada Yoga. Tanpa disadari keringat sudah
mulai membasahi wajah Yoga.
“Mbul, lo gerogi apa? Kok udah kayak habis
mandi aja. Biasa aja kaleee.” Kata Bawen.
“Iya nih, ga tau gerogi apa ga. Yang
jelas parasku yang tampan ini bakal ketutup sama keringet nih, gimana yah.”
Jawab Yoga membuat lelucon.
“Ya elah. Ya ganteng, tapi dilihat dari
ujung monas pake sedotan aqua, udah gitu sedotannya disumbat sama nasi. Ya kan,
hahahahahahahaha.” Jawab Bawen.
“Enak aja, gue tuh lagi sakit tau.
Hati-hati ketularan.” Jawab Yoga.
“Sakit apa lo Mbul, perasaan sehat-sehat
aja?” Tanya Bawen.
“Iya, gue sakit karena kena virus
ganteng yang ga tertandingi. Hahahahaha” Jawab Yoga puas.
Yoga merasa jantunnya berdebar-debar
sangat kencang. Dia benar-benar merasa gerogi. Sedangkan di belakang, Bawen
siap memberikan instruksi.
“Ntar, kalau pas hitungan ketiga, puter
gasnya pelan-pela aja dulu. Catet tuh!! Inget pelan-pelan, jangan langsung
digeber ntar malah nyeruduk. Siap Mbul?” Tanya Bawen
“Oke,” Jawab Yoga. Setelah ia
mengangguk, Bawen menghitung mundur.
“Tiga…Dua….Satu…..” Teriak Bawen.
BRUUUUUUUUUUUUUMMMMMMM
Yoga dan Bawen berteriak………………..
Aaarggghhhhhh.
Sesaat kemudian terdenngar sunyi…
GUBRAG…Ugh.. Yess…
Yoga dengan suksesnya menabrak tiang
gawang.
“Sory Wen, sory.” Ucap Yoga sambil
membersihkan celananya yang kotor.
“Ya udah, ga apa-apa Mbul, namanya juga
belum bisa. Kalau jatuh ya wajar aja kan belum pinter.” Ucap Bawen. Yoga merasa
Bawen adalah sahabatnya yang paling baik.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Yoga
belum kapok untuk bisa naik motor. Ia kembali belajar motor dengan Bawen, namun
kali ini dia memakai motor milik ayahnya.
“Mbul, lo belum kapok juga nih?” Tanya
Bawen.
“Pantang dong, cuma lecet gitu doang aja
kapok. Bukan gue namanya.” Jawab Yoga penuh percaya diri.
“Inget loh, kali ini harus, wajib, dan
kudu, pelan-pelan dulu. Ntar kalo ga gitu malah kaya waktu itu lagi.” Perintah
Bawen.
“Tenang Wen, tenang. Kali ini gue udah
paham kok.” Jawab Yoga.
“Siap yah. Satu.. Dua… Tiga…” Kata Bawen
menginstruksikan pada Yoga.
Akhirnya Yoga mulai bisa menyesuaikan
diri dengan motor itu. Dia sudah mulai lancar dalam mengatur gasnya. Dia juga
mencoba sedikit-sedikit untuk belok. Akhirnya, Yoga berhasil menyelesaikan satu
putaran lapangan itu dengan sukses berat.
“Yessss. Gue bisa kan Wen, gue kan
berbakat. Hahahaha” Ungkap Yoga menyombongkan dirinya..
“Oke lah. Bagus, bagus. Nyoba lagi ga?”
Tanya Bawen.
“Iya dong. Kalau gue udah bener-bener
mahir baru deh kita pulang.” Jawab Yoga dengan penuh semangat dan percaya diri
karena ia bisa menyelesaikan satu putaran lapangan itu.
“Aduuhh Mbul, tapi kayaknya ada yang
perlu diisi nih. Gue laper, bagi duit dong?” Pinta Bawen.
“Tenang aja, kali ini gue traktir lo.
Itung-itung ucapan terima kasih, tapi gue juga beliin satu yah. Katanya ada
tukang es cendol tuh di sana.” Jawab Yoga sambil menunjuk kerumunan orang yang
sedang duduk-duduk di warung pojok lapangan.
Yoga meneruskan latihan motornya,
sedangkan Bawen membeli es cendol di warung. Setelah es cendol datang, segera
mereka meminumnya hingga tetes terakhir.
“Mbul, emangnya lo ga cape apa. Latihan
terus?” Tanya Bawen.
“Cape sih. Ya udah deh, balik aja yuk.”
Jawab Yoga.
Merekapun kembali ke rumah
masing-masing, Yoga mengantarkan Bawen ke rumahnya dengan Bawen yang nyetir.
Sedangkan pulangnya, terpaksa Yoga harus menyetir sendiri.
“Aduuhh Wen, gue takut nih.” Kata Yoga.
“Ngga usah taku kali, biasa aja. Lo kan
udah bisa tadi, yang penting jangan ngebut dulu.” Jawab Bawen menenangkan Yoga.
Akhirnya Yoga pulang dengan membawa
motor sendiri. Ia benar-benar mendengarkan nasihat Bawen, motornya ia setir sangat pelan mungkin hanya
sekitar 10 km/jam. “Horrreeeee” Yoga bersorak dalam hati karena ia bisa pulang
ke rumah dengan selamat menggunakan motor ayahnya itu. Dengan bangganya ia
mengatakan pada ayahandanya.
“Pak, aku udah bisa naik motor loh.”
Kata Yoga bersemangat.
“Oh, ya yang hati-hati aja kalau bawa
motor.” Jawab Ayah Yoga.
“Kalau gitu, udah bisa minta beli motor
dong?” Tanya Yoga lagi.
“Enak aja, masih belum bisa. Bapak baru
akan membelikan kalau kamu sudah SMA.” Jawab ayahnya. Dengan perasaan yang
galau, Yoga masuk ke dalam kamarnya dan tertidur pulas.
Hari demi hari berlalu, karena sudah
lumayan bisa naik motor. Setiap sore Yoga mencoba kemahirannya dengan menaiki
sepeda motor ayahnya di gang-gang
desanya.
Hingga pada suatu sore yang tenang dan
temaram, bagai tersorot lampu di restoran dengan suasana yang romantic. Tak
terlalu banyak hiruk-pikuk menambah ketenangan dan kesunyian sore itu. Semuanya
tampak biasa-biasa saja, tak ada awan hitam. Sore itu dengan santainya Yoga
mengendarai motor merah milik ayahnya. Karena ia merasa sudah mulai mahir naik
motor. Dia mulai mencoba untuk berjalan di jalan-jalan dan di gang yang cukup
besar.
Sambil bersiul-siul, Yoga tetap
mengendarai sepeda motor dengan kecepatan standar. Sampai di suatu gang, Yoga
melihat dari jarak yang cukup dekat seorang pengendara sepeda motor yang nampak
linglung. Dia ingin menyebrang tapi tampak masih ragu. Fellingnya “Wah, pasti
nabrak nih, nabrak.!!!!”
Memang yang namanya calon dukun itu tak
bisa salah. Nggak lama kemudian, motornya menabrak Honda Legenda itu,
“PRRAAaaakkKK”. Padahal saat sebelum kejadian, Yoga sempet nginjek rem dan
berteriak “Alloooohu Akbarrrr” Seraya berkata, “Pak, awas Pak..!!! Awas
nabrak…!!!”. Namun malang tak bisa ditolak, rem Yoga ternyata nggak bisa pakem.
Terjadilah kecelakaan yang sangat dramatis dan susah untuk dia lupakan dan
terhapus di otaknya. Apeessss......
“Hik, hik, hik, aduuhhhh.” Dalam hatinya
bersuara.
Untung saja kami segera ditolong oleh
warga sekitar. Yoga hanya dibantu untuk berdiri karena lukanya tidak terlalu
parah. Yoga pulang dengan motor yang didorong. Setelah sampai di rumah, ayahnya
hanya diam. Entah mungkin karena tak memperdulikan atau tak melihat keadaan
Yoga.
“Pak, aku tabrakan.” Kata Yoga.
“Hah, gimana?” Tanya Ayahnya.
“Aku ngga kenapa-kenapa, cuma lecet
sedikit.” Jawab Yoga.
“Bukan itu, maksudnya motor kesayangan
bapak gimana, ga lecet kan?” Tanya Bapaknya lagi.
“Tau ah, anaknya tabrakan ditanya
keadaannya apa gimana, eh malah Tanya soal motornya. Gimana sih.” Jawab Yoga
kesal, dalam hatinya ia sakit hati atas perkataan Bapaknya itu. Akhirnya Yoga
segera berlalu pergi menuju ke kamarnya untuk mengobati lukanya sendiri.
Sungguh malang nasibnya……..
TAMAT


0 komentar:
Posting Komentar